Di Bulan Puasa Tetanggaku Menyuguhi Tempik

No comment 544 views

Di Bulan Puasa Tetanggaku Menyuguhi Tempik
Di Bulan Puasa Tetanggaku Menyuguhi Tempik

Sial bener apa yang ku alami pada bulan Ramadhan tahun ini, puasa belum genap sehari tapi tetanggaku menyuguhi vagina yang kemudian ku tusuk dengan kontol.

Saat itu suasana rumah sangat sepi. Kedua orang tuaku pada sibuk dengan pekerjaan masing-masing di kantornya. Sedangkan aku yang masih duduk di bangku SMA kelas dua sengaja meliburkan diri tidak masuk sekolah karena pagi tadi sempat merasa lemas dan mencret-mencret.
Rasanya memang tak enak jika di rumah sendirian dalam keadaan kurang sehat, apalagi diriku masih tercatat sebagai seorang siswa di sebuah sekolah negeri, jadi sudah barang tentu aku merasakan kegelisahan tak berpangkal dan berujung. Guna menghilangkan kegelisahaan dan rasa sepi itu pun diriku menyalakan musik dengan suara pelan sambil beres-beres tempat yang sekiranya terlihat amburadul tak teratur.

"Tante Fara, kenapa dia nggak masuk kerja?" Gumamku lirih saat kulihat seorang wanita berusia 25 tahun itu duduk di teras rumahnya. Aku lihat, sesekali tante Fara memperhatikan rumahku yang pintunya tertutup.
"Satrio, kamu tidak masuk sekolah?" Tanyanya yang sedikit mengagetkanku. Tante Fara berdiri dari duduknya dan mendekat ke tempatku, lantas ia menanyaiku saat diriku membuang sampah di tempatnya (depan rumah).
"Oh tante. Iya ini tan, tadi badanku lemas banget mau berangkat sekolah. Tante sendiri nggak masuk kerja?"
"Kebetulan hari ini aku dapat jatah libur kok Sat,"

Hari itu kemudian hilang kegelisahanku karena tante Fara menemaniku hingga sore dengan memberikan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan dan harap.
Setelah membuang sampah itu, aku bermaksud hendak masuk kembali ke dalam rumah karena tak baik jika berlama-lama berada di dekat wanita, meskipun perempuan itu sendiri adalah terangga. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Tante Fara malah bilang jika dirinya ingin menemaniku karena dia sendiri bingung mau ngapain di rumahnya.
"Silahkan tante, tapi... maaf nggak ada cemilan, heheee,"
"Iya Sat. Nggak apa-apa, kan puasa. Kamu puasa tidak?"
"Puasa kok tante," Kami pun duduk dan berbincang di ruangan depan rumahku.

Biasanya aku yang banyak bicara saat berbincang dengan tante Fara, kali ini diriku banyak diamnya karena memang ingin menjaga puasaku dari hal-hal yang tak diinginkan.
Aku kaget bukan kepalang saat tante Fara beringsut merapatkan duduknya dengan badanku karena saat itu kami duduk di atas karpet lantai sambil menonton acara televisi. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke tubuhku yang pastinya membuatku deg degan karena selama ini memang kami tak pernah bersentuhan tubuh sedekat itu, apalagi keadaanku sedang berpuasa bulan ramadhan.
Apa yang dilakukan tante Fara itu berkelanjutan dengan sentuhan-sentuhan jemarinya menelusuri lenganku. Diriku sungguh dibuatnya merinding dan sudah kucoba beringsut menjauh dari duduknya, tapi tante Fara terus memburu kemanapun tubuhku bergeser.

"Maaf tante, jaga jarak lho...," Ucapku, tapi tante bertubuh sintal padat berisi dengan kulit putih mulus itu mengembangkan senyum yang sebenarnya sangat menggoda iman lelaki.
"Kenapa Sat? Setahuku yang jaga jarak itu kendaraan di jalan raya sana, hikhiiik," Kembali jemarinya merayap di lenganku dan seakan ada sesuatu yang ingin ia tunjukan kepadaku di pagi menjelang siang itu.
Benar saja, tanpa rasa malu dan risih tante Fara bilang jika dirinya sangat kesepian dan ingin kembali merasakan belaian lelaki dan katanya aku lah yang akan mengusir rasa sepi yang sedang ia rasakan.
"Ah tante ini ada-ada saja, kenapa harus aku tante?"
"Karena kamu ganteng dan gagah Sat. Aku sering membayangkan betapa enak dan hangat kalau tubuhku dipeluk kamu, dicumbu sama kamu, lalu kita bergulingan di atas ranjang,"

"Bahaya tante ini. Ingat tante, kita sedang puasa lho tan," Kataku mengingatkan. Tapi tante Fara menanggapi perkataanku tadi dengan rabaan ke beberapa tubuhku dengan liar. Perempuan cantik tetanggaku ini semakin berani dengan memegang bagian terlarang di tubuhku.
"Jangan tante! Ah tante," Jemari tante Fara meremas kemaluanku, seketika darahku mengalir dengan deras dan kemaluan pun langsung menegang.
Aku geser pantatku ke samping, menjauh dari tante Fara, tapi wanita tadi mengikutinya dengan menggeser bokongnya. Dia kembali menyentuh kemaluanku dan meremas-remasnya, sementara itu tangan kirinya kulirik menaikan celana pendek sebatas lutut yang cukup longgar. Mataku terbelalak dan susah untuk dipejamkan menghindari pemandangan itu, pahanya yang putih mulus tersebut terpampang jelas di bola mataku.

Diriku bertambah kaget dan keringat dingin seketika beekucuran. Aku tak tahu harus bagaimana, dengan gerakan cepat ditariknya tanganku dan tahu-tahu telapak tangan tersebut sudah menyentuh memeknya. Aku menarik tangan tapi dia menahannya dengan menekankan telapak tanganku untuk tetap berada di barang miliknya.
Aku memandang wajah tante Fara, dia memejamkan mata bersamaan nafasnya yang tersengal saat telapak tanganku di gosok-gosokannya. Tidak lama berselang, aku merasakan jemariku menyentuh bibir daging yang sudah basah oleh lendir. Ya, tante Fara memaksa tanganku masuk dan memainkan memeknya tersebut.

"Aaahhhh, ouhhhh... Satrio...," Desahan membangkitkan nafsu terdengar dari mulut tante Fara. Didorongnya tanganku ke samping, dengan cepat tante cantik tetanggaku itu memelorotkan celananya. Dibukanya lebar-lebar paha itu, tampaklah dengan jelas sebuah daging berwarna kemerahan yang di atasnya tumbuh bulu hitam cukup lebat.
"Tante Fara!" Pura-pura aku menundukan tatapan, padahal sebenarnya aku penasaran dengan daging yang bernama tempik itu. Badanku serasa gemetaran, desir darah mengalir kian deras. Aku menggigit bibirku, menahan nafsu yang telah menguasai diri ini.
"Ayo Sat, tante ingin banget....!!!" Diraihnya kepalaku, dengan cepat ditariknya kepalaku ke bawah dan langsung wajahku jatuh di pangkal pahanya yang mulus nyaris tanpa noda. Ditekannya kuat-kuat kepalaku menempel di memeknya. Dengan suara jelas, tante Fara memintaku untuk menjilati memeknya.
"Nggak mau tan," Kataku dengan dan hendak mengangkat kepala, tapi dengan cepat pula kedua paha mulus itu mencepit kepalaku dan tangannya menekan kuat. Sadis! Dia menggerak-gerakan bokongnya sehingga memeknya bergesekan dengan mulutku.
Saat itu nafasku tersengal dan akal pun seakan berhenti berfikir. Entahlah, selanjutnya tanpa tante Fara suruh lagi lidahku sudah menari menelusuri memeknya. Saat itu yang terbayang olehku adalah adegan di film porno yang pernah kulihat dimana si lelaki menjilati tempik.

"Terus Sat, aaaachhhhh, ouhhhhh...., terus Satrio.... Enak bangets...," Suaranya disela desisan nikmat. Aku kian semangat menggelitik memeknya dengan lidah. Tak aku hiraukan baunya tempik yang katanya nggak sedap. Toh apa yang aku rasakan saat memainkan tempik tante Fara itu tidak mencium bau yang bisa bikin perut mual dan muntah. Mungkin tante Fara bisa menjaga kesehatan memeknya hingga vagina miliknya tidak berbau seperti yang kebanyakan orang bilang.
Setelah dia merasa puas dengan permainan lidahku, di angkatnya kepalaku. Dimintanya aku untuk berbaring karena katanya ia akan memberikan pemanasan kenikmatan kepadaku.
Aku menoleh ke luar rumah sebentar, lantas aku ajak tante seksi itu untuk ke kamar.
Di kamarku tersebut tante Fara benar-benar menunjukan permainan hot dan membuatku lunglai. Di dorongnya tubuhku ke atas ranjang. Dilepas semua pakaian tante Fara, tubuhnya sangat sintal dan mulus sekali. Payudaranya montok dengan ukuran lumayan besar, kata tante Fara sih BH-nya berukuran 36.
Mataku terus menelusuri setiap lekuk tubuhnya yang molek hingga diriku menelan ludah.
Aku menggelinjang, tiba-tiba mulutnya sudah menelan kemaluanku yang panjangnya 23 cm dengan besar lingkarnya kira-kira 10 cm. Penisku disedot-sedot olehnya dan sering lidahnya menari-nari di ujung kemaluan tersebut.
Cukup lama tante Fara memainkan kemaluanku dengan mulutnya. Aku semakin tak berdaya merasakan oral sex tante cantik ini yang sangat nikmat luar biasa, sebab saat mulutnya mengulum-ngulum kemaluanku itu secara bersamaan jarinya menekan dan mengelus-ngelus area antara buah testi/kontol dan dubur. Malah sering jarinya tante Fara terpeleset dan menggerayangi bibir duburku yang mana membuatku geli tapi enak.

Tante Fara sangat hot sekali dalam permainannya, setiap detik ia membuatku dalam kenikmatan. Setelah puas ia melumat kontolku, tante Fara terlentang di sampingku dengan paha dibuka lebar. Dia memintaku untuk segera menyodokan kemaluan ke tempiknya.
Dengan rasa penasaran seperti apa rasanya jika senjataku masuk ke memeknya, aku pun segera menancapkan pusakaku ke liang senggamanya. Tante Fara agak merintih pelan, mungkin karena sodokanku yang agak kasar atau malah kontolku yang kebesaran dalam menghujam tempiknya tersebut.
"Pelan-pelan dulu Sat, sakit...," Kata dia. Seharusnya tante Fara tidak kesakitan menerima tusukan penisku mengingat tempiknya sudah sering dipakai oleh suaminya. Ya, tante Fara sudah bersuami dan saat kami berhubungan badan di hari itu suami tante Fara sedang bekerja di tengah laut, sebab suami tante Fara adalah seorang ABK dari sebuah kapal luar negeri.
Jika tidak salah, suami tante Fara yang bernama Om Abdullah itu baru pulang ke rumah setelah 8 bulan berlayar. Om Abdullah pun tidak bisa berlama-lama berada di rumahnya saat cuti berlayar, biasanya dia hanya dua minggu berada di rumah dan kemudian berangkat berlayar kembali.

"Kenapa tante, sakit?"
"Iya Sat, sakit. Pelan-pelan saja, ya... kan kontolmu besar panjang gitu, nggak seperti kepunyaan mas Abdul,"
"Lho, memangnya kepunyaan Om Abdullah nggak besar ya tante?"
"Iya Sat, punya suamiku kecil, besarnya tidak lebih dari buah sayuran wortel yang kecil itu," Tante Fara agak malu disela merasakan sodokanku.
"Waduh, nggak puas dong tante, aaaaachhhhh,"
"Makanya aku mengajakmu beginian Sat, sebab aku tahu kontolmu besar dan panjang. Ouhhhhh.... terus Sat, goyang...,"
"Dari mana tante tahu kalau punyaku besar panjang? Hayo.... jangan-jangan... pernah mengintip, ya tante...,"
"Ohhhhh... aaaaachhhhh. Auwwww aaaachhhhh....!!! Iya Sat, tante pernah melihat kontolmu waktu itu kamu lagi tidur di depan televisi itu dan kulihat kontolmu tegang sampai keluar dari celana kolor yang kamu pakai,"
"Waduh, kapan itu tante?"
"Aku lupa kapan kejadiannya Sat, tapi sejak saat itu aku selalu membayangkan untuk bisa bercinta denganmu dan merasakan kontolmu.
Terus Sat, terus...! Aaaaachhhhh.... lebih cepat lagi sayang, ouhhhhhhh....,"
"Sudah nggak sakit, ya tante?" Kulihat tante Fara sangat menikmati sodokan penisku. Berulang kali tubuhnya menggelinjang karena nikmat. Sebagai seorang yang sering bercinta di atas ranjang, tante Fara sangat tahu mimik lelaki yang hendak mengeluarkan spermanya.
"Mau keluar ya Sat? Tahan sebentar ah sayang," Entah apa maksudnya dia, saat ia melihat wajahku yang menyiratkan hendak memuncratkan sperma itu kontol, tiba-tiba ditekannya daerah antara buah testis dan dubur berulang-ulang sehingga yang aku rasakan ialah seperti berhentinya sebuah aliran yang hendak keluar melalui lubang penis. Sangat pintar sekali tante Fara ini, dia bisa membuatku bermain berjam-jam dan tidak cepat klimaks.

Mendekati jam 12 siang, muncratlah spermaku dengan deras memenuhi tempiknya yang legit. Aku terkulai lemas di samping tubuhnya yang mulus. Dia tersenyum penuh arti. Sebuah kata ucapan terima kasih terlontar dari mulutnya. Dia mengecup keningku deengan mesra yang lantas bilang agar diriku tidak menceritakan perbuatan itu kepada siapa-siapa. Aku menggangguk pelan sembari membalas senyumya yang aduhai.
"Terima kasih, ya Sat. Kamu telah memuaskan aku. Jangan bilang ke orang lain kalau kamu sudah merasakan tempikku, ya"
"Iya tante. Tante juga jangan bilang ke siapa-siapa, ya,"
"He'em Sat. Kapan-kapan puaskan tante lagi, ya Sat...! Tante akan selalu kangen sama kontolmu ini." Ucapnya dengan tangannya menggenggam kontolku. Dielus dan dikocoknya kontolku hingga nafsuku pun kembali menggelora.
Sebelum tante Fara keluar dari kamarku, kami kembali melakukan permainan itu dengan cepat karena keburu matahari tepat di atas kepala. Akhirnya tante pulang ke rumahnya setelah spermaku muncrat mengenai wajah cantiknya. Di usap wajahnya, pakainnya kembali ia kenakan. Dia melumat bibirku sebelum langkahnya meninggalkan kamar kesayanganku. Sejak kejadian itu kami sering berhubungan badan tanpa sepengetahuan orang-orang sekitar. (*)

Baca juga cerita hot Goyangan Fatimah Saudaraku Luar Biasa!!!

Related Search

    author

    Leave a reply "Di Bulan Puasa Tetanggaku Menyuguhi Tempik"